Menu

Perindustrian (19)

3rd Indonesia - Taiwan Steel Dialogue

  

Surabaya, 24 & 25 Oktober 2019 - Indonesia dan Taiwan untuk ketiga kalinya menyelenggarakan Steel Dialogue, yaitu sebuah forum diskusi di sektor baja dengan tujuan untuk mendiskusikan mengenai roadmap kebijakan industri baja masing-masing, informasi pasar, serta kemungkinan akses pasar, kerjasama industri, dan peluang investasi di antara keduanya. Forum diskusi baja kali ini diselenggarakan pada tanggal 24 - 25 Oktober 2019 di Surabaya, disertai dengan kunjungan ke beberapa perusahaan baja di Indonesia, antara lain, PT.Indal Steel Pipe, PT.Timur Megah Steel, PT.Dwi Jaya Sentosa, dan Maspion Industrial Estate.

Hadir pada acara ini delegasi dari pihak Taiwan antara lain adalah Deputy Director General Bureau of Foreign Trade - Ministry of Economic Affairs Mr. G.J. Lee selaku Chairman dari pihak Taiwan, Kepala Kantor Taipei Economic and Trade Office (TETO) Jakarta Mr. John C. Chen, Secretary General Taiwan Steel & Iron Industries Association (TSIIA) serta anggota TSIIA, perwakilan Chinese National Federation of Industries (CNFI), China Steel Corporation Group, Yieh Phui Enterprise Co. Ltd., Walsin Lihwa Corporation, dan Tang Eng Iron Works Co., Ltd.


Sementara itu delegasi dari pihak Indonesia antara lain adalah Direktur Industri Logam - Kementerian Perindustrian Ibu Dini Hanggandari selaku pimpinan delegasi, Staf Khusus Menteri Perindustrian Bapak I Gusti Putu Suryawirawan, Kepala KDEI Taipei Bapak Didi Sumedi, Kepala Bidang Industri KDEI Taipei Bapak Syahroni Ahmad beserta staf, Kepala Bidang Direktorat Ketahanan dan Iklim Usaha Industri - Kemenperin, Kepala Bidang Direktorat Akses untuk Sumber Daya Industri dan Promosi Internasional - Kemenperin, Kepala Bidang Direktorat Kawasan Industri - Kemenperin, Ketua Asosiasi Fastener Indonesia (AFI), PT.Maspion Group, PT.Dwi Jaya Sentosa, PT.Indal Steel Pipe, dan PT.Timur Megah Steel.


Forum dialog dibuka dengan Kata Sambutan dari Kepala KDEI Taipei, Kepala TETO, Direktur Industri Logam - Kemenperin, dan Deputy Director General Bureau of Foreign Trade - MOEA. Dalam kata sambutannya Kepala KDEI Taipei Bapak Didi Sumedi menyebutkan bahwa pelaksanaan Steel Dialogue ini sangat erat kaitannya dengan 2 dari 5 program prioritas Presiden Jokowi di periode kedua, antara lain adalah, Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Transformasi Ekonomi. Dalam hal pengembangan sumber daya manusia dibutuhkan dukungan dana yang cukup besar dan pengoptimalan kerja sama dengan sektor industri, sedangkan dalam hal transformasi ekonomi, harus ada perubahan dari bergantung pada sumber daya alam menjadi penciptaan daya saing manufaktur dan layanan modern yang memiliki nilai tambah tinggi.


Dan dalam kata sambutannya juga Direktur Industri Logam - Kemenperin menambahkan, bahwa tujuan dilaksanakannya Steel Dialogue ini bagi pihak Indonesia adalah untuk menjamin kontinuitas bahan baku bagi Industri yang telah ada di Indonesia, penyediaan bahan baku bagi industri yang akan melakukan perluasan, penumbuhan investasi industri baru asal Taiwan, dan juga menjadi wadah bagi pemerintah dan pengusaha industri baja Indonesia dan Taiwan untuk membahas isu-isu perdagangan yang dihadapi kedua belah pihak.


Dalam forum ini juga dibahas beberapa isu penting antara lain adalah, tingginya pajak bea masuk produk baja Taiwan ke Indonesia, pihak Taiwan memohon untuk pemerintah Indonesia menurunkan pajak bea masuk tersebut, pihak Indonesia menyampaikan agar usulan tersebut dimasukkan ke dalam point permohonan untuk penyusunan PTA (Preferential Trade Arrangement), sedangkan dari pihak Indonesia berharap penurunan bea masuk produk baja Taiwan harus diimbangi juga dengan komitmen investasi Taiwan di Indonesia, dan juga disampaikan bahwa Taiwan dapat menggunakan Indonesia sebagai Base Camp produksi bajanya untuk pasar regional maupun global. Dalam kesempatan ini pun pihak Taiwan menyampaikan harapannya untuk kerja sama hilirisasi produk hulu Alloy Steel, Galvalum, Galvanis, Stainless Steel, serta Solar Cell Panel yang berasal dari Taiwan ke Indonesia sehingga dapat memenuhi kebutuhan industri dalam negeri Indonesia maupun untuk diekspor kembali ke negara lain. Kedua belah pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan Steel Dialogue dalam sebuah focus group yang khusus membahas tentang implementasi dari apa yang sudah dibahas di dalam Steel Dialogue ketiga ini.


Steel Dialogue yang ke-3 ini ditutup dengan penentuan waktu dan lokasi Steel Dialogue ke-4 yang akan dilaksanakan tahun depan pada bulan Oktober 2020 di Kaohsiung, Taiwan.

Read more...

Indonesia dan Taiwan berkolaborasi mengekspor produk elektronik ke Amerika Serikat

PT Sat Nusapersada yang berlokasi di Batam bersama dengan Pegatron Corp., sebuah perusahaan elektronik yang berkantor pusat di Taiwan telah melakukan ekspor perdana produk broadband dan smart home router ke Amerika Serikat pada tanggal 2 Februari 2019.

Pengiriman perdana tersebut diresmikan oleh Wakil Presiden M. Jusuf Kalla didampingi Menperin Airlangga Hartarto serta Gubernur Kepri Nurdin Basirun, yang juga turut disaksikan Direktur Utama PT Sat Nusapersada Abidin, Vice Chairman Pegatron Corporation Jason Cheng, Kepala KDEI Taipei Didi Sumedi, dan Kepala TETO Jakarta, John C. Chen.

Kolaborasi kedua perusahaan tersebut melahirkan potensi total nilai ekspor sebesar USD 600 juta per tahun serta dapat membuka lapangan kerja baru hingga 2.000 orang.

“Industri komponen elektronik memang merupakan industri andalan Taiwan, yang berkontribusi sebesar 28,03% terhadap total industrial production value Taiwan, jadi memang sudah sepantasnya Indonesia menangkap peluang kerjasama dengan perusahaan tersebut”, kata Kepala KDEI Taipei di sela-sela acara peresmian pengiriman perdana tersebut.

Lebih jauh, industri komponen elektronik berdasarkan data terkini National Statistics Republic of China (Taiwan) menyumbang 37,3% GDP industri manufaktur Taiwan, disusul oleh industri komputer, elektronik, dan produk optik sebesar 10,2%, serta industri bahan kimia sebesar 7,4%.

“Jadi selain dengan Pegatron, kami akan upayakan juga untuk membantu perusahaan elektronik dalam negeri agar dapat bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan elektronik lainnya di Taiwan. Ini baru dari satu sektor saja, belum lagi sektor lainnya seperti bahan kimia, logam, permesinan, dan lain-lain”, lanjutnya.

Pegatron sendiri merupakan pecahan dari ASUS yang berdiri pada tahun 2007 yang saat ini telah memiliki 9 pabrik di Asia, Eropa, dan Amerika dengan produk utamanya berupa computing devices, consumer electronics dan communication devices. Hanya dalam waktu 10 tahun saja, tepatnya pada tahun 2018, Fortune Global 500 menempatkan Pegatron di peringkat ke-285 dunia berdasarkan nilai revenue yang dicapainya, yakni sebesar US$ 39,24 miliar. Di tahun yang sama, Pegatron juga masuk ke dalam daftar The Top 100 Global Technology Leaders versi Thomson Reuters bersama 11 perusahaan Taiwan lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirut PT Sat Nusapersada menyampaikan, pihaknya bertekad untuk terus menjadi salah satu manufaktur smartphone terbesar di Indonesia. Hingga saat ini, pihaknya telah memproduksi berbagai merek smartphone ternama di dunia seperti Asus, Xiaomi, Huawei, Honor dan Nokia yang dipasarkan di Indonesia serta sisanya diekspor ke India, Jerman dan Perancis.

“Dan, ke depan, kami akan mendorong kerja sama investasi pada komponen industri elektronika dan telematika, seperti semi konduktor sebagai salah satu komponen utama, yang diharapkan sektor ini dapat semakin meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” imbuh Menperin Airlangga Hartarto menutup sesi tanya jawab dengan pers.

Read more...

Second Indonesia-Taiwan Steel Dialogue

Indonesia dan Taiwan untuk kedua kalinya menyelenggarakan diskusi mengenai roadmap kebijakan industri baja masing-masing, informasi pasar, serta kemungkinan akses pasar, kerjasama industri, dan peluang investasi di antara keduanya. Forum diskusi ini disertai dengan kunjungan ke beberapa perusahaan baja di Taiwan (China Steel Corporation, China Steel Machinery Corporation, Chun Yu, Dragon Steel, dan Chung Hung) yang dikemas dalam rangkaian acara 2nd Indonesia-Taiwan Steel Dialogue yang diselenggarakan pada tanggal 27-28 September 2018 di kantor pusat China Steel Corporation (CSC) di Kaohsiung, Taiwan.

Hadir pada acara ini Deputy Director General Bureau of Foreign Trade, Ministry of Economic Affairs, Mr. G.J. Lee, selaku Chairman dari pihak Taiwan, Kepala Taipei Economic and Trade Office (TETO) Jakarta, Mr. John C. Chen, Chairman Taiwan Steel & Iron Industries Association (TSIIA) serta anggota TSIIA, perwakilan Chinese National Federation of Industries (CNFI), perwakilan Metal Industrial Research and Development Center (MIRDC), China Steel Corporation Group, Chung Hung Steel, Chun Yu Works, Yieh Group, Synn Industrial, dan Tention Steel Industries. 

Sementara itu delegasi dari pihak Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal KPAII Kemenperin, Bapak I Gusti Putu Suryawirawan, Kepala KDEI Taipei, Bapak Didi Sumedi beserta staf, Direktur Industri Logam (Co-Chairman) beserta staf, Direktur Ketahanan Industri beserta staf, perwakilan Puskaji IUI, BPPI, Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), Direksi PT. Moon Lion, Direksi PT. Steelforce Indonesia, dan perwakilan PT. Dwijaya Sentosa Abadi.

Pada pembukaan, Chairman pihak Indonesia menyampaikan bahwa tujuan utama steel dialogue kali ini adalah untuk 3 kelompok industri: (1) jaminan kontinuitas bahan baku bagi industri yang telah ada di Indonesia, (2) penyediaan bahan baku bagi industri yang akan melakukan perluasan , dan (3) penumbuhan investasi industri baru asal Taiwan.

Pembahasan pada Sesi 1, Current Development of Taiwan and Indonesia Economy, Steel Industry and Steel Market, pihak Taiwan menyampaikan bahwa Indonesia berada di urutan ke-13 sebagai negara tujuan ekspor baja terbesar Taiwan dengan nilai 142 juta USD dengan volume ekspor sebesar 210.566 ton pada tahun 2017. Sementara itu Indonesia berada di urutan ke-11 sebagai negara asal impor Taiwan dengan produk utama yaitu Stainless Steel Hot Rolled yang pada tahun 2017, nilai impornya mencapai 57,48 juta USD dengan volume sebesar 32.367 ton dan diperkirakan meningkat pesat pada tahun 2018 menjadi sebesar 355,91 juta USD dengan volume sebesar 186.767 ton. 

Konsumsi domestik produk baja di Taiwan juga telah mencapai tingkat jenuh/stagnan sehingga diperkirakan tidak akan ada penambahan kapasitas Blast Furnace dalam rencana ke depan. Taiwan hanya berencana memperbaharui teknologi peleburan lama mengingat overcapacity di industri baja telah menjadi isu utama dunia.

Sementara itu pihak Indonesia menyampaikan bahwa kondisi baja nasional masih mengalami tekanan akibat banyaknya impor produk baja hulu dan hilir dengan nilai impor tahun 2017 sebesar 14 juta ton. Secara umum, Indonesia masih memerlukan investasi di sektor baja terutama untuk produk Slab, Billet, HRC, CRC, Rod, Bar, Section, Galvanis, BjLS, dan BjLAS. Selain itu, Indonesia juga telah memiliki Road Map pengembangan kapasitas industri baja dengan target kapasitas sebesar 17 juta ton untuk tahun 2020 – 2024 dan 25 juta ton untuk tahun 2025 – 2035. Untuk mendukung tumbuhnya investasi di sektor industri baja, pemerintah menyiapkan insentif investasi berupa Tax Holiday dan Tax Allowance serta insentif bahan baku berupa Master List dan BMDTP.

Pada pembahasan Sesi 2, Mutual Interest or Specific Concern, pihak Taiwan menyampaikan permintaan mengenai adanya solusi terhadap tingginya tarif bea masuk/MFN produk baja terutama untuk produk intermediate yaitu HRC dan CRC serta penyelesaian pemberlakuan safeguard BjLAS yang telah diputuskan WTO untuk dicabut. Terhadap permasalahan ini, pihak Indonesia menyampaikan bahwa MFN merupakan salah satu insentif untuk mendorong tumbuhnya investasi produk tersebut di Indonesia serta untuk melindungi industri yang telah ada. Terdapat beberapa skema yang dapat dimanfaatkan oleh pihak Taiwan untuk mendapatkan tarif bea masuk yang lebih rendah dari MFN terutama untuk tujuan penggunaan bahan baku yaitu: penggunaan Master List Bahan Baku maksimal selama 4 tahun dan penggunaan BMDTP (Bea Masuk Ditanggung Pemerintah). 

Indonesia juga menyampaikan concern-nya pada sesi kedua ini bahwa acara Steel Dialogue ini merupakan kesempatan bagi pihak Taiwan untuk memulai investasi di Indonesia. Industri baja melalui IISIA, menawarkan kesempatan untuk melakukan joint operation and business collaboration mengingat demand baja di Indonesia akan terus tumbuh ke depannya. Terhadap usulan tersebut, pihak Taiwan menyampaikan bahwa akan mempelajari lebih lanjut usulan proposal dari pihak Indonesia terkait dengan joint operation and business collaboration. Namun, pihak taiwan masih menyampaikan bahwa tarif bea masuk bahan baku baja masih menjadi pertimbangan untuk melakukan investasi.

Meskipun acara Steel Dialogue ini diadakan tahunan, dimana acara berikutnya direncanakan akan diselenggarakan di Surabaya pada akhir September 2019, namun masing-masing pihak, termasuk KDEI Taipei akan terus berkomunikasi satu sama lain untuk memperoleh hasil yang lebih riil yakni adanya investasi China Steel Corporation (CSC) untuk membangun industri baja di Indonesia.

Read more...

Taiwan Jajaki Kerja Sama Industri Perkapalan Hingga Makanan

Taiwan tengah menjajaki peluang kerja sama dengan Indonesia khususnya di sektor manufaktur guna memperkuat perekonomian kedua pihak. Sektor yang potensial untuk dikolaborasikan, antara lain industri perkapalan, pengolahan logam, ICT & Smart City dan teknologi bahan pangan.

Jika kita melihat dari neraca perdagangannya, Indonesia surplus terhadap Taiwan. Namun, masih ada kesempatan besar dalam meningkatkan neraca perdagangan kita dengan mengoptimalkan sumber daya industri sehingga dapat melengkapi satu sama lain.

Pada tahun 2017, total perdagangan kedua pihak mencapai USD 7,4 miliar dan Taiwan berada di peringkat ke-11 sebagai mitra impor maupun ekspor perdagangan global Indonesia. Sementara itu, jumlah investasi langsung Indonesia di Taiwan sebesar USD32,2 miliar. Sedangkan, penanaman modal langsung Taiwan di Indonesia sekitar USD397 juta menjadikan Taiwan sebagai investor urutan ke-14 terbesar Indonesia. 

Penyelenggaraan “Indonesia-Taiwan Industrial Collaboration Forum“ (ITICF)  pada 6 Agustus 2018, di Jakarta, memberikan berbagai inspirasi dan ide, termasuk bentuk investasi dalam upaya implementasi model bisnis digital untuk memajukan dan meningkatkan daya saing industri kedua pihak di era industri 4.0 saat ini.

Forum yang dihadiri 500 orang dengan mengundang pihak pemerintah dan pelaku industri dari Taiwan dan Indonesia itu membahas beberapa peluang kerja sama ekonomi bilateral ke depannya, seperti peningkatan kerjasama teknik melalui pertukaran tenaga ahli serta training; penjajakan promosi investasi serta kolaborasi industri, dan penjajakan kerjasama lainnya yang menjadi keandalan kedua pihak.

Dalam acara ITICF, ditandatangani 6 (enam) buah Memorandum of Understanding (MoU) yang terdiri dari 3 MoU di sektor swasta (antara Universitas Bina Nusantara/BINUS dengan Industrial Economics and Knowledge Center-IEK Taiwan di bidang kerjasama pelatihan dan inovasi industri; PT. Kingda Marine Technical Indonesia dan FunzSan Industry Co. LTD di bidang business and technical service of fishing machine and deck machine; PT Terang Parts Indonesia dan Jarvish Inc di bidang helm pintar).

Selanjutnya, 3 MoU dalam hal kerjasama pengembangan desain industri kreatif dan kemasan pada sektor IKM, kerjasama di bidang makanan dan minuman serta kerjasama industri sains dan teknologi logam) yang ditandatangani oleh Kepala KDEI dengan mitra dari Taiwan.

Dalam rangkaian acara ITICF tersebut juga diselenggarakan sesi one on one business matching yang dibagi dalam 4 (empat) subforum, yakni Subforum Ship Building, Subforum ICT and Smart City, Subforum Food and Bio Technology dan Subforum Metal. Dari hasil subforum tersebut, disepakati untuk melakukan dialog lebih teknis dan intensif yang diwujudkan pada pertemuan Food Dialogue dan Metal Dialogue yang akan datang.

Untuk mempromosikan investasi di kawasan Industri, Sebanyak 17 kawasan Industri turut terlibat dalam mempromosikan kawasannya. Kawasan industri tersebut antara lain adalah Kawasan Industri Jababeka, Kawasan Industri Karawang International Industrial City (KIIC), Kawasan Industri Modern Cikande, Kawasan Industri Jakarta Jakarta Industrial Estate Pulogadung (JIEP) serta Kawasan Industri Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER).

Selanjutnya Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Industri MM2100, Kawasan Industri Suryacipta, Kawasan Industri CFLD, Kawasan Industri Artha Industrial, Kawasan Industri Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Kawasan Industri Kabil, Kawasan Industri Tanggamus, Kawasan Industri Kendal, Kawasan Industri Batamindo, Kawasan Industri Medan dan Kawasan Industri Sei Mangkei.

Para peserta ITICF juga diajak untuk kunjungan kawasan industri pada tanggal 7-8 Agustus 2018 guna lebih memberikan gambaran mengenai kapasitas industri Indonesia. Para pimpinan perusahaan dan lembaga Taiwan diagendakan untuk melakukan kunjungan Industri yang disesuaikan dengan Jenis Industrinya, Peserta di sub forum Food and Bio Tech, Metal dan Electronic diagendakan untuk melakukan kunjungan Industri di di kawasan industri Modern Cikande, yakni ke First Cable, Sokonindo, Nippon Indosari, Sorini Agro, Bumi Lestari dan Newland Steel dan mengunjungi pula beberapa industri di kawasan industi Jababeka seperti Bumi Cikarang, G-Shank, dan Liwayway. Untuk peserta anggota sub forum shipbuilding diagendakan mengunjungi PT Kampuh Welding Indonesia (Cikarang) dan PT Samudra Marine Indonesia di Cilegon. Untuk peserta ICT& Smart city diagendakan melakukan kunjungan ke Blue Bird Group, Institut Otomotif Indonesia (IOI), Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII). Keseluruhan kunjungan tersebut ditujukan dalam rangka penjajakan peluang investasi dan kolaborasi di sektor Industri.

Read more...

Taiwan-Indonesia Industry Cooperation Conference di National Cheng Kung University Tainan 

Industrial Economics and Knowledge Center (IEK), Industrial Technology Research Institute (ITRI) beserta Center for Southeast Asian Studies—National Cheng Kung University, dibawah binaan Industrial Development Bureau—Ministry of Economic Affairs, pada tanggal 5 Juni 2018 pk. 09:00-16:50 mengadakan “Taiwan-Indonesia Industry Cooperation Conference” yang mengambil tempat di National Cheng Kung University.

Acara ini dihadiri oleh Kepala Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taipei (KDEI Taipei), Robert James Bintaryo, yang didampingi oleh Kepala Bidang Industri, Syahroni Ahmad, Kasubag Protokol dan Konsuler, Nugroho Priyo Pratmo, dan Staff Bidang Perdagangan, Hendry Sugandi. Dari pihak pemerintah Taiwan, hadir Chief Executive Officer, Southern Region Industrial Parks Administration Office—Industrial Development Bureau (Ministry of Economic Affairs, R.O.C), Ibu A-mei Kuo. 

Pada kesempatan kali ini, Kepala KDEI Taipei menyampaikan informasi terkait pelaksanaan “Indonesia Taiwan Industrial Collaboration Forum” pada tanggal 6-10 Agustus 2018 di Jakarta, dengan harapan dapat membangun hubungan kerjasama industri yang lebih baik lagi antara Indonesia dan Taiwan. Demikian juga sambutan dari Chief Executive Officer, Southern Region Industrial Parks Administration Office—Industrial Development Bureau (Ministry of Economic Affairs, R.O.C), Ibu A-mei Kuo, selain memaparkan dengan singkat kondisi pertumbuhan industri Taiwan, khususnya Taiwan bagian selatan, beliau juga turut menyampaikan keantusiasan pihak Taiwan untuk berpartisipasi dalam “Indonesia Taiwan Industrial Collaboration Forum”. Beliau yakin dan percaya dengan begitu tingginya usia produktif di Indonesia dan angka GDP yang cukup tinggi, hal ini menjadi beberapa alasan yang kuat bagi para pelaku usaha untuk dapat melakukan kerjasama di Indonesia.

Adapun delegasi dari Indonesia yang hadir sebagai pembicara, berasal dari lembaga litbang pemerintah dan akademisi, seperti Dr. Maxensius Tri Sambodo—peneliti senior dari Pusat Penelitian Ekonomi--Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Beliau mengangkat sebuah tema mengenai kondisi lingkungan dan kebijakan ekonomi di Indonesia secara keseluruhan, dimana beliau juga menegaskan bahwa saat ini adalah momentum yang sangat penting untuk berinvestasi di Indonesia, dikarenakan begitu banyak kebijakan dan keuntungan investasi yang sangat mendukung. Selain itu, hadir pula Prof. Dr. Sujoko Efferin dan Prof. Dr. Putu Anom Mahadwartha dari Universitas Surabaya, serta Prof. Dr. Tirta N. Mursitama dari Universitas Bina Nusantara.

Serangkaian acara ditutup dengan sebuah kesimpulan bahwa hubungan, baik itu bidang industri ataupun bidang lainnya antara Indonesia dengan Taiwan, masih memiliki potensi pengembangan yang sangat besar. Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah komunikasi yang terarah baik antar pemerintah maupun antar pelaku usaha.

Read more...

Acara Ambassadors’Day ke Taiwan Agricultural Research Institute (TARI) di Taichung

 

Taipei 17 Mei 2018 – Kepala KDE Taipei, Robert James Bintaryo didampingi oleh Kepala Bidang Perindustrian, Syahroni berkunjung ke Taiwan Agricultural Research Institute (TARI) di Taichung. Dalam  mendorong kebijakan New Southbound Policy khususnya dalam riset dan pengembangan serta kerjasama di bidang pertanian, maka Office of Trade Negotiation, Executive Yuan yang dipimpin oleh Minister without portfolio, John Deng, mengundang para perwakilan dari negara tujuan New Southbound Policy untuk berkunjung ke Taiwan Agricultural Research Institute (TARI). Kunjungan ini dihadiri oleh Representative Tran Duy Hai (Vietnam), Executive Director Thongchai Chasawath (Thailand), Director General Sridharan Madhusudhanan (India), President Datuk Pung Shuk Ken Adeline (Malaysia), Resident Representative & Chairman Angelito Tan Banayo (Filipin), dan didampingi oleh Director General, Jenny Yang from Bureau of Foreign Trade (BOFT); Deputy Director Chen from Council of Agriculture (COA), Executive Yuan dan Director General, Junne-Jih Chen from Taiwan Agricultural Research Institute (TARI). Para perwakilan diundang untuk melihat hasil penelitian TARI dalam bidang pengembangbiakan jamur dan buah markisa, inovasi alat-alat pertanian serta integrasi teknologi Remote Sensing (RS) dan Geographic Information System (GIS) dalam manajemen pertanian di Taiwan.

Taiwan Agricultural Research Institute (TARI) yang berdiri sejak tahun 1895 ini merupakan pusat penelitian yang sangat penting dalam bidang pertanian Taiwan, khususnya dalam kerjasama pertanian yang beragam, pelatihan para ahli pertanian, teknologi yang maju, penelitian bibit baru dan pengembangan sistem manajemen lahan pertanian yang dapat menjawab setiap kebutuhan para pelaku UKM pertanian. Saat ini TARI juga telah menjalin kerjasama teknologi dengan beberapa negara. 

Dengan setiap teknologi dan keunggulan Taiwan dalam bidang pertanian, Executive Yuan berharap agar para perwakilan dapat melihat potensi kerjasama pertanian guna meningkatkan kualitas dan kapasitas hasil panen para petani dan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar internasional. Delegasi dari Kementerian Pertanian RI sendiri telah beberapa kali mengunjungi TARI dimana dalam waktu dekat akan direalisasikan kerjasama pertanian antara Indonesia dan Taiwan.

Read more...

Kunjungan KDEI Taipei ke TCI Co., Ltd.

Taipei  11 Mei 2018 – Tim Ekonomi  KDEI Taipei yang dipimpin oleh Kepala KDEI, Robert James Bintaryo melakukan  kunjungan ke TCI Co,. Ltd. ke Pingtung.  Kepala KDEI, Robert James Bintaryo didampingi oleh  Kabag Administrasi, Tri Djuliyanto,  Kabid Industri, Syahroni Ahmad, serta delegasi dari Biro Hukum Kementerian Perindustrian dan 3 orang lokal staff.  

Kunjungan disambut oleh General Manager TCI, Aaron Chen. TCI berdiri sejak tahun 1980 dan telah berhasil menerapkan konsep industri 4.0 di seluruh pabriknya baik di Pingtung, Taiwan, maupun di Shanghai, China. TCI juga merupakan perusahaan pertama di Taiwan yang tergabung ke dalam RE100, kumpulan perusahaan yang memiliki komitmen 100% Renewable Energy. TCI berkontribusi sebesar 15% terhadap ekspor functional food Taiwan, 20% terhadap ekspor functional drink Taiwan, dan 30% terhadap ekspor masker kesehatan Taiwan ke seluruh dunia.

Saat ini TCI juga telah berhasil masuk ke pasar Indonesia dan tengah melakukan kolaborasi dalam bidang R&D. Tahapan selanjutnya yang akan dijalankan TCI yaitu manufacturing process di Indonesia. 

Pada kesempatan yang sama Kepala KDEI Taipei, Robert J. Bintaryo menyatakan sangat menyambut baik rencana TCI untuk berkembang di Indonesia dan akan menyediakan bantuan dan konsultasi yang diperlukan. Turut disampaikan oleh Kabid Industri beberapa peluang kerjasama R&D dengan lembaga litbang/perguruan tinggi yang dapat dijalankan oleh TCI dan Indonesia.

Read more...

Opening Ceremony, Taiwan Innovative Agricultural Machinery Pavilion

 

Taipei - Kepala Bidang Industri, Syahroni mewakili KDEI Taipei hadir pada acara Taiwan Innovative Agricultural Machinery Pavilion tanggal 27 April 2018. Acara yang dihadiri oleh para Ambassador negara sahabat serta perwakilan dari kantor representatif negara-negara cakupan New Southbond Policy ini dimulai dengan sambutan dari Minister Tsung Hsien Lin of Council of Agriculture (COA) dan sambutan dari Mayor Cheng Wen-tsan of Taoyuan City, dilanjutkan dengan kunjungan ke setiap booth serta kunjungan ke lokasi demo mesin.

Beberapa mesin dan teknologi unggulan yang dipamerkan diantaranya mesin pengupas nanas yang hanya memerlukan waktu 4 detik, gunting listrik/baterai untuk memangkas kayu  (electrical pruning shears), drone penyemprot anti hama (agriculture UAV), mesin pemanen sayur, grain dryer (sudah banyak diekspor ke Indonesia), agricultural cloud sensing system, dan soybean sorting machine.

Khusus soybean sorting machine (pemilah kedelai)  dioperasikan oleh 2 orang mahasiswa asal Indonesia yang melanjutkan kuliah di National Pingtung University. Pada kesempatan kali ini Kabid. Industri mendapat kehormatan untuk turut menumpahkan kedelai yang belum dipilah ke dalam mesin pemilah tersebut bersama Menteri COA, Tsung Hsien Lin.

Diharapkan semangat untuk melahirkan inovasi-inovasi di bidang alat mesin pertanian tersebut dapat ditiru oleh lembaga-lembaga litbang dan institusi lainnya di Indonesia.

Read more...

Opening Ceremony Indonesia Food Safety and Regulation Course di Food Industry Reasearch & Development Institute (FIRDI), Hsinchu

24 April 2018 telah dilakukan acara Opening Ceremony Indonesia Food Safety and Regulation Course di Food Industry Reasearch & Development Institute (FIRDI) di Hsinchu.  Indonesia Food Safety and Regulation Course yang digelar FIRDI ini dilaksanakan selama 4 hari di Hsinchu dan Chiayi. Peserta yang hadir terdiri dari perwakilan perusahaan yang bergerak dalam bidang industri makanan dan memiliki minat besar untuk menjalin hubungan dengan Indonesia. Pelatihan ini diadakan dengan maksud memberikan informasi lebih detail kepada para pengusaha industri makanan Taiwan mengenai kondisi dan regulasi industri makanan termasuk regulasi Halal di Indonesia. 

 

Pada pelatihan ini, FIRDI secara khusus mengundang Peneliti Senior, Bpk. Ir. Agus Sudibyo dan  Kepala Seksi Kerjasama, Bidang Pengembangan Jasa Teknik, Bpk. Achmad Taufik sebagai narasumber dari Balai Besar Industri Agro (BBIA) untuk menyampaikan informasi terkait standarisasi dan regulasi industri makanan di Indonesia. Selain itu, FIRDI juga mengundang Kepala KDEI Taipei, Bpk. Robert James Bintaryo untuk dapat memberikan kata sambutan pada pelatihan tersebut didampingi oleh Kepala bidang Industri, Bpk. Syahroni Ahmad dan Kasubbag Konsuler dan Protokol, Bpk. Nugroho Priyo Pratomo. 

 

Kehadiran Kepala KDEI Taipei merupakan salah satu komitmen untuk mempererat kerjasama diantara kedua institusi tersebut, sebagaimana diketahui bahwa FIRDI dan KDEI Taipei telah menandatangani Memorandum Of Understanding (MOU) pada Indonesian Week 2018 tanggal 22 Maret lalu.

 

Deputy Director FIRDI, Ms. Yu-Fen Chen juga menyampaikan terima kasih untuk kesediaan KDEI Taipei telah hadir dan memberikan dukungan kepada para peserta pelatihan ini.  Bpk. Robert menyampaikan bahwa potensi industri makanan di Indonesia sangat besar. Letak geografis dan kebiasaan setiap daerah yang beragam merupakan salah satu keunikan Indonesia. Beliau juga menghimbau para pengusaha Taiwan untuk tetap ramah lingkungan saat mengembangkan industri mereka di Indonesia.

Read more...

KDEI Taipei menghadiri acara Teleconference antara Balai Besar Industri Agro Indonesia (BBIA) dan Food Industry Research and Development Institute (FIRDI) di Hsinchu

Pada hari Senin 22 November 2017 telah diadakan acara teleconference di Food Industry Research and Development Institute (FIRDI) di Hsinchu. FIRDI yang telah berdiri sejak 50 tahun lalu, merupakan pusat penelitian dan pengembangan industri makanan dan minuman di Taiwan. 

Acara ini dihadiri oleh Bpk. Ngakan Timur Antara selaku Kepala Badan Pengembangan dan Penelitian Industri (BPPI) dan Bpk. Umar Habson selaku Kepala Balai Besar Industri Agro (BBIA) di Bogor. Sedangkan dari pihak FIRDI, dihadiri oleh Ms. Yan-Hwa Chu, Director of Product and Process Research Center, dan Mr. Tony J. Fang, Deputy Director General of FIRDI. Sebagai fasilitator, acara ini dihadiri juga oleh KDEI Taipei, yakni Bpk. Syahroni Ahmad, Kepala Bidang Industri, dan Juliana yang dalam hal ini juga berperan sebagai penerjemah.

Pada acara teleconference ini, BBIA dan FIRDI melakukan diskusi lanjutan dalam 3 (tiga) topik bahasan. Pertama, BBIA menyampaikan keinginannya agar FIRDI dapat membantu teknologi dalam memproduksi refined carrageenan dari skala laboratorium menjadi skala industri/mass production. Kedua, pihak BBIA juga ingin menaikkan kualitas produk CBS cocoa butter yang diperoleh dari palm kernel oil. Ketiga, kerjasama penelitian pada minyak dari buah merah Papua yang khasiatnya telah dirasakan masyarakat Papua sejak ratusan tahun yang lalu. Pihak FIRDI menyampaikan kesediaannya untuk bekerjasama dan memberikan bantuan dalam penelitian ketiga topik tersebut dengan menggunakan teknologi yang dimiliki.

Pihak BBIA, FIRDI, dan KDEI Taipei akan terus saling berkomunikasi untuk lebih meningkatkan kerjasama di antara keduanya. BBIA dan FIRDI juga menyampaikan akan merancangkan MOU untuk kerjasama kedua belah pihak. Hasil akhir dari kerjasama penelitian antara BBIA dan FIRDI ini akan bermuara pada kerjasama business-to-business antara industri Indonesia dengan industri Taiwan.

Read more...
Subscribe to this RSS feed

Kontak Kami

6F, No. 550, Rui Guang Road, Neihu District, Taipei, 114, Taiwan, ROC
Phone : (02) 87526170
Fax : (02) 87523706

Email: ieto[at]ms8.hinet.net

TAUTAN LAIN

Our website is protected by DMC Firewall!