Menu

Tenaga Kerja Indonesia di Taiwan Terbaik dari Asia

Taipei (ANTARA News) - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Taiwan berkinerja lebih bagus dibanding pekerja dari negara-negara Asia lainnya yakni dari Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Mongolia.

"Mereka berkinerja bagus dan sampai sejauh ini relatif tidak ada masalah yang cukup berarti," kata Direktur Jenderal Biro Tenaga Kerja dari Dewan Urusan Pekerja (CLA) Taiwan, Lin San-Quei dalam perbincangan mengenai TKI dengan Dirut ANTARA Ahmad Mukhlis Yusuf di Taipei, Selasa.

Dirut ANTARA yang didampingi Koordinator Staf Ahli ANTARA Aat Surya Safaat berada di Taipei dalam rangka melihat perkembangan informasi teknologi serta keberadaan TKI di Taiwan sambil berkomitmen untuk turut mendorong adanya peningkatan hubungan ekonomi dan perdagangan serta sosial budaya Indonesia-Taiwan.

Lin lebih lanjut menjelaskan, jumlah TKI di Taiwan adalah yang terbanyak dibanding pekerja yang berasal dari negara-negara Asia lainnya.

Urutan selanjutnya adalah pekerja dari Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Mongolia. Mereka bekerja di sektor manufaktur, konstruksi, anak buah kapal (ABK) di kapal perikanan, pengasuh orang-orang lanjut usia, dan pembantu rumah tangga.

"Jumlah mereka setiap tahun selalu meningkat," ujarnya, sambil menambahkan dari 355.136 pekerja asing di Taiwan yang tercatat per Februari 2010, maka TKI mencapai 40,26 persen atau 142.983 orang, sedangkan bulan sebelumnya (Januari) mencapai 128,584 orang atau 36,15 persen.

Lin menyebutkan keberadaan TKI jelas turut memberi andil bagi kemajuan ekonomi Taiwan. Mereka terbanyak bekerja sebagai pengasuh orang lanjut usia. Urutan selanjutnya adalah berkerja di sektor manufaktur, ABK, pembantu rumah tangga, dan konstruksi.

Read more...

Radar Taiwan : Mengintip Pertanian Modern Taiwan

Hamparan sawah seluas satu hektar, hanya memerlukan waktu tiga jam dalam menanam padi, jika menggunakan mesin tanam padi seperti yang ada di Taiwan. Dengan pola tanam tersebut tentu dapat menghemat tenaga kerja, waktu serta yang menggiurkan adalah hasil panen yang memuaskan.Per hektar mampu menghasilkan 12 ton gabah.

Sistem pertanian modern di Taiwan, agaknya menjadi daya tarik bagi Kepala KDEI Taipei.Sehingga walau harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam antara Taipei Changhua, bapak dua putra ini tetap semangat mengikuti arahan dari konsultan teknik Chang Kuo-An saat mengunjungi para petani Taiwan beberapa waktu lalu.

Dalam paparannya Mr. Chang menjelaskan, jika pertanian di Taiwan sistem menanam padi sangat jauh dengan sistem yang ada di Indonesia.Jika petani Indonesia dari bibit di semai dihamparan persemaian. Setelah persemaian tumbuh dengan memakan waktu kira-kira 15 hari barulah bibit padi di cabut(di daut) dari persemaian. Setelah itu padi baru di tanam diatas lahan. Dalam satu hektar cara penanaman ini memerlukan waktu seminggu dan membutuhkan tenaga kerja sekitar empat atau lima orang.

Menurut  Mr. Chang, jika sistem tanam seperti petani di Indonesia yang di jelaskan diatas, tentu ada beberapa kekurangannya. Diantaranya, bibit padi yang telah tumbuh di media semai, lantas di cabut lagi lalu di tanam di lahan sawah, tentu akan kurang bagus hasilnya. Karena padi yang di cabut akan stress dan untuk pulih memerlukan waktu seminggu. Induknya sudah tumbuh, anakannya baru tumbuh seminggu lagi. Selanjutnya bibit yang di cabut akar-akarnya akan tertinggal di lahan persemaian kira-kira bisa 40 persennya. Jadi ada 40 persen bibit yang hilang.Hal ini tentu akan mempengaruhi hasil produksi.

Read more...

National Taiwan University of Science and Technology Indonesian Culture Exhibition 2009

Mahasiswa NTUST – Indonesian Students Association menyelenggarakan Indonesian Culture Exhibition (ICE) 2009. ICE 2009 diadakan selama dua hari yaitu pada tanggal 12 dan 13 Maret 2009 dengan mengambil tema “The Mosaic of Indonesia”. Acara kali ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana NTUST-ISA pertama kalinya bekerjasama dengan IOCA (Indonesian Overseas Chinese Association) untuk menampilkan Indonesian Culture Performance. Acara berjalan dengan sangat meriah dan dipadati oleh pengunjung.

Pada hari pertama, culture exhibition ini menampilkan pameran benda-benda budaya dan mengadakan beberapa workshop antara lain Cooking Workshop, Angklung Workshop dan Ketupat Workshop. Selain benda-benda budaya, ICE 2009 juga membuat berbagai miniature stupa, danau toba, gunung merapi dan lain sebagainya. Acara juga diselingi dengan permainan tradisional seperti congklak dan pada waktu tertentu juga disediakan makanan dan minuman khas Indonesia.

 

 


Selain itu, lain dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini ICE 2009 mengadakan Singing Competition bagi mahasiswa-mahasiwa non Indonesia. Lomba nyanyi ini diikuti lebih dari 20 kontestan dari berbagai negara dengan menyanyikan lagu Rasa Sayange dalam versi bahasa Indonesia maupun Mandarin. Posisi pertama dan kedua ditempati oleh mahasiswi Jepang dan Taiwan.

Pada hari kedua yang merupakan puncak acara, ICE 2009 menampilkan serangkaian culture performance. Acara dimulai dengan memperkenalkan adat pernikahan pengantin Jawa. Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dari Presiden NTUST, Chen.. dan Bapak Kepala KDEI, Bapak Suhartono, wakil dari IOCA Bapak Zhang serta tamu terhormat lainnya.


Beberapa tarian yang dibawakan antara lain Tari Yapong, Tari Cendrawasih, Tari Sahureka dan Tari Kayau. Dalam kesempatan ini, IOCA juga turut mempersembahkan Tari Tempurung, Tari Lilin serta persembahan lagu Bengawan Solo yang dibawakan secara interaktif dengan mengajak pengunjung menari bersama. Selain tarian tradisional, juga ditampilkan musik tradisional Angklung dan Rebana. Permainan musik tradisional Angklung sangat menarik pengunjung karena dapat memainkan lagu pop Mandarin dan pengunjung dapat menyanyi bersama. Dalam acara ini, pengunjung juga mendapat kesempatan mencicipi makanan Indonesia yang membuat acara budaya ini menjadi lengkap.


Secara keseluruhan, acara berlangsung dengan baik dan menarik. Dalam menyelenggarakan acara ini, mahasiwa Indonesia bekerjasama dengan mahasiswa lokal dan mahasiwa asing lainnya seperti dalam pembuatan miniatur-miniatur, penampilan tari dan musik, sehingga mahasiswa asing dapat terlibat secara langsung dan dapat mengenal budaya Indonesia. Total pengunjung selama dua hari mencapai lebih dari 700 orang.


 

 

Read more...

Resesi Ekonomi, Taiwan akan Memotong Jumlah Tenaga Kerja Asing

Resesi ekonomi akhir-akhir ini telah mengakibatkan tingkat pengangguran meningkat. Dalam kaitan ini, Pemerintah Taiwan akan memotong jumlah tenaga kerja asing untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang Taiwan. Dewasa ini, Taipei sedang berusaha menekan jumlah tenaga kerja asing dan menciptakan 70,000 hingga 80,000 kesempatan kerja bagi orang Taiwan. Sebagai contoh sekitar 20-25 persen pekerja bangunan berasal dari tenaga kerja asing, akan dikurangi hingga menjadi 15 persen, untuk mengusahakan lapangan pekerjaan di masa mendatang.

 

Angka pengangguran bulan November 2008 mencapai 4.64 persen atau lebih dari 500,000 orang. Menurut Directorate General of Budget, Accounting and Statistics (DGBAS), ini merupakan angka tertinggi dalam lima tahun terakhir ini sehingga mengundang kekhawatiran karena tahun 2009 perekonomian diperkirakan memburuk dan angka pengangguran diindikasikan akan naik. Kelompok umur 45-64 tahun biasanya menjadi tulang punggung perekonomian keluarga, namun saat ini diperkirakan tingkat pengangguran pada kelompok ini berjumlah 100,800 sehingga akan memberikan dampak sosial yang besar. Penduduk yang menganggur akibat tutup atau bangkrutnya perusahaan, saat ini berjumlah 202,000 orang. Pekerja yang bekerja sebanyak 35 jam per minggu saat ini berjumlah 741,000 orang. Angka ini tidak termasuk pekerja yang menerima upah dibawah US$300 per bulan.



Read more...

Tenaga Kerja Indonesia Ilegal "dibuang" Majikan

Sabtu, 13 Desember 2008 malam hari di daerah Taichung County terjadi peristiwa mengenaskan yang menimpa seorang Tenaga Kerja Indonesia. Malam itu terlihat seorang Tenaga Kerja Indonesia di tengah jalan yang sedang kebingungan mencari pertolongan dan kesakitan karena jari-jari tangannya putus dan bersimbah darah.

 

Pihak kepolisian setempat menjelaskan bahwa dari hasil penyelidikan bahwa Tenaga Kerja Indonesia nahas bernama Sunarni (24), tersebut merupakan Tenaga Kerja Indonesia kaburan yang bekerja secara ilegal di Taiwan. Ia disebut kurang berkonsentrasi ketika bekerja secara ilegal di sebuah pabrik sehingga mengakibatkan putusnya jari jemari tangannya. Tenaga Kerja Indonesia tersebut meletakkan tangannya pada sebuah mesin dan secara tidak sengaja terpotong oleh mesin tersebut.

 

Majikan yang mengetahui hal ini langsung membawa Sunarni dengan mobil pergi dari pabrik. Mungkin karena takut jika dituntut memperkerjakan Tenaga Kerja Indonesia secara ilegal, maka dia menyuruh Sunarni turun dari mobil dan meninggalkannya begitu saja di tempat yang sepi. Pihak kepolisian setempat segera membawa Sunarni ke Rumah Sakit terdekat untuk di beri pengobatan. Pengacara Huang Y-lin mengatakan, majikan Tenaga Kerja Indonesia tersebut bersalah karena dia dianggap lari dari tanggung jawab.

 

Sunarni datang ke Taiwan tiga tahun lalu dan bekerja secara legal di daerah Taipei sebagai Pembantu Rumah Tangga. Sunarni seharusnya sudah selesai kontrak tahun lalu dan pulang ke Tanah Air. Namun, Sunarni bersama dengan teman-teman Tenaga Kerja Indonesia lainnya kabur dan bekerja secara ilegal di tempat lain. Sunarni mengatakan bahwa seminggu sebelum kejadian, seorang agen gelap memperkenalkan dan membawa dia ke sebuah pabrik di daerah Feng Yuan, dia sendiri tidak mengetahui siapa nama majikan dan dimana pabrik tempat dia bekerja tersebut.

 

Pada malam kejadian itu, majikan perempuan memanggil seorang laki-laki yang dikatakan sebagai anak dari majikan tersebut untuk membawa Sunarni ke daerah sekitar Dan Zi dan menurunkan dia, lalu ditinggalkan begitu saja. Dari kasus ini, kepolisian setempat menduga bahwa majikan Sunarni merasa takut ketahuan memeperkerjakan pekerja ilegal sehingga melakukan tindakan keji tersebut. Polisi berjanji akan berupaya keras menangkap majikan ini dan jika dilihat dari luka yang dialami oleh Sunarni, majikan tersebut akan di kenai hukuman denda sebesar NT$ 150.000,- sampai NT$ 750.000- serta hukuman penjara minimal 3 tahun atau maksimal 10 tahun.

 

Setelah dirawat selama beberapa hari di Rumah Sakit, saat ini Sunarni ditampung sementara di penampungan sambil menunggu proses hukum yang sedang berlangsung. Kasus Sunarni sekiranya bisa menajadi pelajaran bagi rekan Tenaga Kerja Indonesia lainnya bahwa menjadi Tenaga Kerja Indonesia kaburan dan bekerja secara ilegal bukan merupakan suatu pilihan yang baik kaena tidak mempunyai jaminan bekerja yang aman serta tidak ada pihak berwenang yang dapat melindungi kita.

Read more...

Tahun 2008 Tenaga Kerja Indonesia Sumbang Devisa 130 Triliun Rupiah

Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang selama ini dipandang sebelah mata, ternyata menghasilkan devisa yang sangat besar bagi negara. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) memperkirakan devisa yang disumbangkan TKI pada tahun 2008 ini sebesar Rp 130 triliun atau 13 miliar dollar AS.

 

Kepala BNP2TKI, Moh. Jumhur Hidayat menyatakan, setiap tahun devisa yang dihasilkan TKI untuk negara selalu meningkat. Pada tahun 2008 ini saja, TKI telah menghasilkan devisa sebesar Rp 130 triliun. Devisa senilai itu sudah tertinggi setelah devisa migas yang sebesar Rp 180 triliun.

 

Selain itu BNP2TKI akan terus mendorong TKI yang bekerja non pembantu rumah tangga (PRT). Apalagi tahun 2009 mendatang akan banyaknya penerimaan TKI non PRT di sektor-sektor baru di negara-negara seperti, Kanada, Eropa Timur, New Zealand dan Afrika Selatan.


Sumber : http://kompas-tv.com

Read more...

Presiden RI : Canangkan 2009 Sebagai Tahun Indonesia Kreatif

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meuthia Hatta Swasono dan Gubernur DKI Fauzi Bowo dan Ketua Umum PHI ke-80, Nila F. Moeloek melaksanakan Pemukulan Gong (3 dimensi) sebagai tanda pencanangan Tahun Indonesia Kreatif 2009 (TIK 2009).

 



Pada kesempatan tersebut Presiden RI antara lain mengemukakan, pemerintah mendukung penuh program Indonesia kreatif yang dicanangkan bersamaan waktunya dengan Hari Ibu ke 80 diselenggarakan. Mengingat industri kreatif merupakan pengembangan ekonomi gelombang keempat dengan prospek cerah, utamanya pada saat krisis global saat ini, sekaligus diharapkan mampu mendorong kaum perempuan Indonesia, dapat mengambil peran yang lebih besar dalam memajukan industri kreatif di tanah air.

 



Pada bagian lain Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan, sektor pengembangan program Indonesia kreatif berpeluang menyerap tenaga kerja 5,4 juta, 6,3 persen kontribusi terhadap perekonomian (PDB) dan sekitar 9 persen pada ekspor. Terhadap pasar dalam negeri aspek bisnis kreatif potensinya sangat besar.


Sumber : http://depdag.go.id

Read more...

Trade Expo Indonesia Ke-23 Dibuka Presiden RI

Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Prijanto membuka secara resmi Trade Expo Indonesia (TEI) Ke-23 di Jakarta International Expo Kemayoran , 21 Oktober 2008.

 



Trade Expo Indonesia Ke-23 akan berlangsung tanggal 21-25 Oktober mengusung tema Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia? Atau What Would the World Do without Indonesia?. Tema tersebut dipilih dalam rangka momentum peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, yang bermakna bahwa kita harus bangga dengan kekayaan sumber daya alam serta karya dan produk Indonesia di sektor manufaktur, dimana Indonesia sudah menjadi produsen terbesar dan juga sudah memiliki merek-merek yang sudah go international.

 



Presiden RI Susilo Bambang Yodhoyono dalam sambutan pembukaan antara lain mengatakan bahwa TEI 2008 diharapkan dapat meningkatkan perdagangan Indonesia dan dapat meningkatkan kerjasama ekonomi baik secara domestik maupun Internasional. Tema khusus TEI menurut Presiden memiliki makna yang penting artinya bahwa di luar negeri ada pasar yang memerlukan produk Indonesia dan merupakan peluang yang tidak boleh disia-siakan.

 



Sementara itu Mendag dalam laporannya antara lain mengatakan bahwa TEI 2008 diikuti 850 peserta dari UKM, koperasi, industri menengah hingga industri besar dan BUMN dan mencakup berbagai sektor yang mewakili 10 produk eskpor utama dan 10 produk unggulan. Menurut Mendag pada TEI tahun ini ada peningkatan kunjungan misi dagang dari 12 pada tahun 2007 menjadi 33 negara dengan jumlah buyers yang melalui misi dagang sebesar 1011 orang.

 



Pada kesempatan Trade Expo 2008 ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga menganugerahkan Penghargaan Primaniyarta 2008 kepada 27 perusahaan Indonesia. Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang masuk empat katagori yaitu Eskportir Berkinerja (10 perusahaan), Pembangun Merek Global (7 perusahaan), UKM Ekspor (8 perusahaan) dan Pelaku Ekspor Ekonomi Kreatif (2 perusahaan).(sumber : http://depdag.go.id)

Read more...

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya "menceritakan" secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga, banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya bukan dokter. Saya coba: Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu urusan kiat para CEO dan direkturnya.Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan labanya harus terus meningkat. Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang, sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka. Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian banyak. Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik, terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih, terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut: hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan seterusnya. Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama, agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana bisa dengan gaji sebesar itu masih stres? Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain. Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil? Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah populernya hostile take over. Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun. Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena dapat dukungan atau sumber dana. Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya. Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa membeli barang, ekonomi semakin maju lagi. Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2 triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara "membesarkan" perusahaan seperti itu dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia. Tapi, itu belum cukup. Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak cukup lagi: harus computerized! Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup. Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat, dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya. Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli rumah? Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar? Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980, pemerintah bikin keputusan yang disebut "Deregulasi Kontrol Moneter". Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua tahun kemudian. Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan, asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya: Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski tidak sama). Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun. Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat orang yang bisa mendapat mortgage. Dengan keluarnya "jalan baru" pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan bisnis lain yang terkait. Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka, ada lagi "jalan baru" yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni, tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya: pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu. Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun. Kata "mortgage" berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan Anda belum lunas. Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah tersebut. Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers? Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh "para pelaku bisnis keuangan" sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba. Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank. Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam undang-undang perbankan yang keras. Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan. Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan "bank jenis lain" yang disebut investment banking. Apakah investment banking itu bank? Bukan. Ia perusahaan keuangan yang "hanya mirip" bank. Ia lebih bebas daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal: menerima macam-macam "deposito" dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan. Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu. Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja: kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah "personal banking". Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu. Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage. Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun. Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya. Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua. Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar. Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar, memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi? Itulah yang ditanyakan anggota DPR AS sekarang, sehingga belum mau menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang Indonesia yang "menabung"-kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking yang kini lagi pada kesulitan itu. Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura, Hongkong, atau Tiongkok. Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)

Read more...

Indonesia Raih Dua Gelar di Taiwan Terbuka

Para pebulutangkis Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa. Pemain tunggal pertama Simon Santoso dan ganda campuran Devin Lahardi/Lita Nurlita menang di final turnamen grand prix Taiwan Terbuka yang berhadiah total US$ 170 ribu.

Unggulan pertama tunggal putra Simon Santoso meraih gelar pertama dalam tiga tahun terakhir. Ia memenangi pertandingan final melawan pemain Malaysia M. Rosloin Hashim. Dalam pertandingan yang digelar di Taipei County Shinjuang Stadium, Ahad (14/9), Simon menang tiga game 21-18, 13-21, 21-10 atas unggulan tujuh asal Malaysia itu.

Pasangan Devin Lahardi/Lita Nurlita meraih gelar ganda campuran. Keduanya mengalahkan pasangan Taiwan Fang Chieh Min/Cheng Wen Hsing 14-21, 21-11, 21-19.(ANS/ANTARA)

Read more...
Subscribe to this RSS feed

TAUTAN LAIN

Kontak Kami

Our website is protected by DMC Firewall!